
Salah satu radikal bebas adalah senyawa 7,12–dimetilbenz(α)antrasen
(DMBA) yang banyak terdapat pada asap rokok, asap kendaraan bermtor, dan
asap dapur. DMBA merupakan karsinogen sekunder (prokarsinogen)
sehingga harus mengalami aktivasi metabolisme (biotransformasi) untuk
menghasilkan karsinogen aktif. Proses metabolisme menghasilkan DMBA
menjadi senyawa yang lebih toksik (Gao et al., 2007). Banyaknya paparan
radikal bebas yang terdapat di lingkungan sehingga sangat besar
kemungkinan radikal bebas tersebut berikatan dengan sel di dalam tubuh.
DMBA dimetabolisme di hati dan akan menjadi senyawa yang reaktif setelah
mengalami metabolisme, hal ini memungkinkan dapat menyebabkan
kerusakan hati (Sari, 2008).
Supaya dapat berpotensi sebagai karsinogen, DMBA semestinya
dimetabolisme di hepar tikus menjadi metabolit 7–hydoxy–DMBA oleh
karena metabolit tersebut yang bersifat reaktif oksidan terhadap DNA sel.
Beberapa studi memperlihatkan bahwa senyawa DMBA yang tidak
mengalami biotransformasi menjadi 7–hydoxy–DMBA gagal dalam
menyebabkan karsinoma (Nair & Varalakshmi, 2011). DMBA menurunkan
aktivitas enzim antioksidan yang bersifat kemoprotektif terhadap radikal
bebas seperti superoxide dismutase dan katalase pada hepar (Paliwal et al., 2011). Stres oksidatif adalah mekanisme umum yang berkontribusi terhadap
inisiasi dan perkembangan kerusakan hati dalam berbagai gangguan hati. Kadar Aspartate Transaminase (AST), Alanine Transaminase (ALT), dan
Alkaline Phosphatase (ALP) yang terdapat dalam sel hati merupakan indikasi
dari kerusakan hepatoseluler yang ditemukan menurun pada tikus yang
diinduksi DMBA (Sharma et a.l, 2012).
Alur metabolisme DMBA melalui aktivasi enzim P450 menjadi intermediate
reaktif yang dapat merusak DNA. Enzim sitokrom P450 CYP1A1 atau
CYP1B1 dan enzim mikrosomal hidrolase pada metabolisme fase 1 merubah
DMBA menjadi DMBA–3,4–diol–1,2–epoksida (DMBA–DE). DMBA–DE
dan senyawa xenobiotic polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) lainnya
mengakibatkan pembentukan radikal reaktif yang bersifat destruktif,
imunotoksik, dan hepatotoksik (Gao et al., 2007). Aktivasi enzim tersebut
dapat dihambat oleh senyawa flavonoid yang terkandung di dalam mahkota
dewa (Anshor dkk., 2011).
DMBA menyebabkan transformasi neoplastik melalui kerusakan DNA,
akumulasi ROS, dan memediasi inflamasi kronis (Manoharan et al., 2010). Kerusakan DNA menyebabkan pengaktifan onkogen dan atau inaktivasi gen
supresi tumor dan berbagai epigenetik yang menyebabkan progresi dari tumor
(He & Karin, 2011). DMBA terbukti dapat menginduksi produksi reactive
oxygen species (ROS) yang mengakibatkan peroksidasi lipid, kerusakan
DNA, dan deplesi dari sel sistem pertahanan antioksidan (Kasolo et al., 2010). Mediator inflamasi kronis yang dihasilkan oleh makrofag yang
teraktivasi akibat induksi DMBA dapat mengakibatkan NF-kB teraktivasi
(Oktaviana dkk., 2012). NF-kB meregulasi ekspresi gen yang termasuk dalam
beberapa proses yang mempunyai peranan penting di dalam perkembangan
dan progresi dari kanker, yaitu proliferasi, migrasi, dan apoptosis (Dolcet et
al., 2005).
Inflamasi merupakan suatu proses fisiologis dalam menanggapi kerusakan
jaringan akibat infeksi mikroba patogen, iritasi kimia, dan atau luka. Setelah
terjadi kerusakan jaringan, sinyal kimia akan menginisiasi dan
mempertahankan respon host yang dirancang untuk menyembuhkan jaringan
yang rusak. Aktivasi dan migrasi leukosit ke lokasi kerusakan dan faktor
pertumbuhan, sitokin, oksigen reaktif, dan nitrogen species diketahui
memainkan peran penting dalam respon inflamasi. Proses inflamsi diperlukan
untuk menjaga kekebalan tubuh, perbaikan optimal, dan regenerasi setelah
cedera (Montano et al., 2011).
Kandungan senyawa aktif yang terdapat pada tanaman mahkota dewa adalah
alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, terpenoid, dan steroid. Golongan senyawa
dalam tanaman yang berkaitan dengan aktivitas antikanker dan antioksidan
antara lain adalah golongan alkaloid, terpenoid, polifenol, flavonoid dan juga
senyawa resin (Septiawati, 2008). Beberapa alkaloid yang diisolasi dari
tumbuhan alami menunjukkan efek antiproliferasi antimetastasis pada
berbagai jenis kanker baik in vitro maupun in vivo (Lu et al., 2012).
Flavonoid adalah antioksidan yang kuat karena aktivitasnya sebagai
antioksidan dan antiinflamasi. Antioksidan di dalam mahkota dewa
mempunyai aktivitas menetralkan radikal bebas sehingga mencegah
kerusakan oksidatif pada sebagian besar biomolekul dan menghasilkan
proteksi terhadap kerusakan oksidatif secara signifikan (Sreelatha & Padma,
2009). Antioksidan menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi
kekurangan elektron yang dimiliki radikal bebas, dan menghambat terjadinya
reaksi berantai dari pembentukan radikal bebas yang dapat menimbulkan stres
oksidatif (Waji & Sugrani, 2009).
Referensi :
- Waji RA, Sugrani A. 2009. Makalah kimia organik bahan alam flavonoid (quercetin). Makasar: Universitas Hasanuddin. hlm. 8–9.
- Lu JJ, Bao JL, Chen XP, Huang M, Wang YT. 2012. Alkaloids isolated from natural herbs as the anticancer agents. Hindawi Publishing Corporation. 10(12): 1-12.
- Sreelatha S, Padma PR. 2009. Antioxidant activity and total phenolic content of Moringa oleifera leaves in two stages of maturity. Plant foods for human nutrition. 64(4): 303-11.
- Septiawati T. 2008. Daya hambat ekstrak etanol buah mahkota dewa terhadap aktivitas α-glukosidase secara in vitro. Skripsi. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.
- Muljono DH. 2004. Keterlibatan mitokondria pada penyakit hati. Jakarta: Lembaga Biologi Molekul Eijkman. hlm. 145–64.
- Dolcet X, Llobet D, Pallares J, Matias GX. 2005. NF-kB in development and progression of human cancer. Virchows Archiv. 446(5): 475–82.
- Kasolo JN, Bimeya GS, Ojok L, Ochieng J, Okwal-okeng JW. 2010. Phytochemicals and uses of Moringa oleifera leaves in Ugandan rural communities. Journal of Medical Plant Research. 4(9): 753-7.
- Oktaviana KT. 2012. Pengaruh ekstrak metanol daun kelor (Moringa oleifera) tehadap penghambatan aktivasi NF-kB pada hepar tikus wistar model hepatocellular carcinoma (HCC) yang diinduksi DMBA. Faculty of Medicine Brawijaya University. 2(12): 14-21.
- Amalina N. 2009.Uji toksisitas akut ekstrak valerian (Valeriana officinalis) terhadap hepar mencit BALB/C. Karya tulis ilmiah. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Anshor T, dominius A, Irwanda, Imiawan MI. 2013. Supresi Ekspresi CYP1A1 dan CYP1A2 pada hepatocelluler carcinoma melalui potensi formula herbal terkombinasi Gynura procumbens dan kulit jeruk pontianak (Citrus nobilis var. Microcarpa) sebagai agen kemopreventif keganasan hepar. IMKU. 2(1): 1–11.